Gue punya dua temen. Sebut aja namanya Andi dan Budi. Dua-duanya sama-sama rajin olahraga. Tapi akhir-akhir ini, kalau liat story mereka, beda banget.
Andi: story main badminton di GOR dekat rumah. Kaos oblong. Jersey bola. Bawa air minum botol bekas. Keringat bercucuran. Caption: “Tungguin gue.”
Budi: story main padel di sebuah club kawasan Jakarta Selatan. Pake attire senada—atas putih bawah navy, sepatu baru. Latar belakang kafe aesthetic. Nongkrong sambil minum kopi setelah main. Caption: “Great game, great people.”
Dua olahraga. Dua dunia. Dua kelas sosial yang berbeda.
Dan di 2026, perbedaan itu makin jelas.
Padel Itu Apa Sih Sebenernya?
Buat yang belum tau, padel itu olahraga raket yang mirip tenis—tapi dimainkan di lapangan lebih kecil (sepertiga lapangan tenis) yang dikelilingi dinding kaca. Bolanya mirip bola tenis tapi lebih kecil. Servisnya underhand. Dan yang paling khas: bolanya boleh dipantulin ke dinding, kayak squash.
“Permainan padel tidak menuntut keahlian khusus,” kata Menpora Dito Ariotedjo. “Lebih kasual dibanding tenis atau badminton. Pemain tenis butuh kekuatan, badminton butuh refleks dan kecepatan” .
Artinya? Olahraga ini mudah dipelajari bahkan buat pemula total. Dalam 15 menit pertama, lo udah bisa reli. Dalam satu jam, lo udah merasa jago.
Dan itu, ternyata, jadi daya tarik besar.
Angka yang Nggak Bisa Dibantah
Coba liat data ini:
- 2021: cuma 15 lapangan padel di seluruh Indonesia, awalnya terkonsentrasi di Bali .
- 2024: 240 lapangan .
- 2025: 947 lapangan—lonjakan 295% dalam setahun .
- 2026: proyeksi lebih dari 2.500 lapangan .
- 2032: estimasi lebih dari 6.700 lapangan .
Pertumbuhan tahunan 74% . Dan ini bukan cuma di Jakarta. Udah menyebar ke 22 provinsi .
Sekarang bandingin sama badminton. Berapa lapangan badminton di Indonesia? Pasti jauh lebih banyak. Tapi pertanyaannya: seberapa banyak lapangan badminton baru yang buka dalam setahun terakhir?
Nah.
Harga Tiket Masuk: Siapa yang Bisa Main?
Ini bagian yang paling menarik (dan mungkin sensitif).
Sewa lapangan padel per jam di 2025 :
- Bali: Rp430.875
- DKI Jakarta: Rp423.354
- Banten: Rp383.239
- Jawa Barat: Rp336.250
- Jawa Timur: Rp321.500
Itu baru sewa lapangan. Belum include sewa raket, beli bola, atau kalau mau pake pelatih.
Bandingin sama badminton: sewa lapangan bisa mulai dari Rp50 ribu sampai Rp150 ribu per jam, tergantung lokasi dan fasilitas. Itu pun udah termasuk lampu dan biasanya udah include shuttlecock.
Selisihnya 3-8 kali lipat.
Dan turnamen? Padel Charity Tournament 2026 di Smash Padel Jakarta Selatan misalnya, biaya pendaftaran per tim: Rp2,5 juta . Itu baru pendaftaran, belum termasuk biaya persiapan.
Badminton? Turnamen internal kantoran bisa patungan 50 ribu per orang.
Bukan buat banding-bandingin. Tapi ini realita.
Bukan Sekadar Olahraga, Tapi “Social Sport”
Menpora Dito menyebut padel sebagai social sport . Maksudnya? Olahraga yang dirancang buat bersosialisasi.
“Kebanyakan lapangan padel terintegrasi dengan kafe dan pusat perkumpulan komunitas. Ini bukan sekadar tempat olahraga, tapi ruang bagi anak muda untuk berkumpul, berjejaring, dan hidup sehat” .
Coba lo perhatikan: lapangan padel jarang berdiri sendiri. Biasanya satu paket sama:
- Kafe atau restoran (seringnya kopi kekinian)
- Tempat nongkrong dengan WiFi kenceng
- Coworking space
- Store apparel olahraga
- Area parkir luas (penting nih buat yang bawa mobil)
Ini model bisnis yang beda sama GOR badminton. Kalau di GOR, lo dateng, main, bayar, pulang. Mungkin mampir beli es kelapa muda di pinggir jalan.
Di padel, lo dateng 30 menit lebih awal buat ngopi. Main 1 jam. Abis itu nongkrong 1-2 jam sambil bahas deal bisnis atau sekadar ngobrol. Makan siang. Foto-foto. Upload story.
Durasinya bisa 3-4 jam untuk satu sesi “olahraga”.
Dan itu dihargai. Bahkan jadi poin jual.
Siapa yang Main? Ini Dia Pembeda Utamanya
Analisis dari FULLSTOP Branding Agency memetakan perbedaan demografi dengan jelas :
Badminton:
- Lintas usia dan latar belakang
- Anak sekolah, mahasiswa, karyawan, keluarga
- Komunitas tumbuh organik—berbasis lokasi, kantor, pertemanan
- Lapangan jadi titik kumpul yang “real” dan konsisten
Padel:
- Spesifik: urban, profesional, sensitif terhadap lifestyle branding
- Bermain bukan cuma soal olahraga, tapi experience
- Dari ambience, outfit, sampai aktivitas setelah main (nongkrong, networking)
- Lebih cepat menarik perhatian brand, meskipun jumlah pemain belum sebesar badminton
“Padel tidak bisa diperlakukan seperti olahraga massal, dan badminton tidak bisa diposisikan seperti lifestyle playground” .
Ini kunci buat ngerti kenapa padel “menggerus” badminton. Bukan dari jumlah pemain—badminton masih juara. Tapi dari perhatian dan investasi.
Frekuensi vs Visibility: Dua Cara Jadi Viral
Perbedaan lain: kebiasaan main.
Badminton dimainkan sebagai rutinitas. Banyak orang punya jadwal tetap: seminggu sekali, bahkan 2-3 kali. Exposure di lapangan badminton repetitif dan jangka panjang .
Padel? Lebih sebagai social occasion. Nggak selalu rutin, tapi ketika dimainkan, aktivitasnya lebih terdokumentasi. Difoto. Diunggah ke medsos. Dibicarakan .
Ini menjelaskan kenapa padel sering terlihat “lebih viral” meskipun basis pemainnya lebih kecil.
Satu olahraga kuat di habit, yang lain kuat di visibility.
Dan di 2026, visibility itu berharga. Buat personal branding. Buat networking. Buat cari relasi bisnis.
Studi Kasus: Mereka yang Pindah Haluan
Gue ngobrol sama beberapa orang yang tadinya rajin badminton, sekarang mulai tergoda padel.
Rina (32), Marketing Manager, Jakarta
“Dulu gue main badminton tiap minggu. Tapi akhir-akhir ini males. Soalnya… ribet. Nyari partner, booking lapangan, bawa perlengkapan sendiri, abis itu langsung bubaran. Sekarang gue main padel sebulan sekali. Iya, lebih jarang. Tapi pengalamannya beda. Biasanya gue ajak klien. Sambil main, sambil ngobrol. Abis itu lanjut makan. Deal kadang keluar dari situ.”
Dimas (29), Startup Founder, Bandung
“Gue dulu atlet badminton waktu SMA. Tapi sekarang lebih milih padel. Kenapa? Karena lebih santai. Nggak perlu jago banget buat bisa seru-seruan. Temen-temen gue yang bukan atlet juga bisa ikut. Dan yang penting, tempatnya enak buat ngobrol.”
Andhika (35), Bankir, Surabaya
“Di kantor gue, sekarang lagi musim padel. Bukan berarti badminton ditinggalin, tapi kalau ada acara kantor, lebih sering milih padel. Soalnya… lebih eksklusif. Lo bisa ngundang client ke tempat yang oke, bukan ke GOR yang rame.”
Perhatikan benang merahnya: bukan soal olahraganya, tapi soal konteks sosialnya.
Badminton Masih Raja, Tapi…
Jangan salah. Badminton masih nomor satu di Indonesia.
Survei publik menunjukkan lari jadi favorit utama (60,6%), disusul sepeda (9,2%), gym (6%), dan badminton tetap populer sebagai olahraga lapangan dengan basis penggemar luas .
“Badminton adalah mass sport, padel adalah niche yang sedang naik daun” .
Tapi yang bikin padel “mengancam” bukanlah jumlah pemainnya. Tapi siapa pemainnya.
Padel mengambil segmen yang selama ini jadi target empuk brand: kelas menengah ke atas urban.
Dan ketika segmen ini mulai mengalihkan perhatiannya, investasi ikut mengalir. Sponsor. Event. Media coverage. Pembangunan fasilitas baru.
Dari Rekreasi ke Prestasi: Ambisi Padel Indonesia
Yang menarik: padel nggak berhenti sebagai olahraga sosial. Sekarang mulai serius ke prestasi.
Perkumpulan Besar Padel Indonesia (PBPI) baru saja menggelar Sirkuit Nasional (Sirnas) Padel Open 2026 di Jakarta. Kategorinya: Open (101 pasangan putra, 28 putri), Youth U-14, Youth U-16 .
Ketua Umum PBPI Galih Dimuntur Kartasasmita bilang: “Sirnas Jakarta tahun ini break record, peserta melonjak signifikan, partisipasi perempuan mendekati 30 persen” .
Dan ini bukan sekadar turnamen iseng. Sirnas jadi fondasi penentuan peringkat nasional dan seleksi atlet untuk level internasional.
KONI pun angkat bicara. Sekjen KONI Tb. Lukman Djajadikusuma menyebut padel sebagai “salah satu cabor dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia. Sudah berkembang di 22 pengurus provinsi, dipertandingkan secara ekshibisi di PON Sumut–Aceh, hingga tampil di Kejuaraan Asia di Doha dengan hasil membanggakan” .
Bahkan, Asian Games 2026 disebut-sebut bakal mempertandingkan padel .
Badminton butuh puluhan tahun buat sampai ke level itu. Padel? Lima tahun.
Tapi Padel Bukan Tanpa Masalah
Di balik euforia, ada isu yang mulai muncul.
“Belakangan ini sejumlah lapangan padel yang kerap beririsan dengan pemukiman warga ternyata menimbulkan permasalahan. Tata kelola kota pun menjadi sorotan” .
Lapangan padel butuh lahan. Lahan di kota besar mahal. Akibatnya, banyak lapangan dibangun di area yang mendekati pemukiman. Suara bola memantul di dinding kaca ternyata bisa jadi polusi suara buat tetangga.
Belum lagi soal sustainability. Dengan harga sewa 400 ribuan per jam, siapa yang bisa main rutin? Kalau pemainnya cuma segelintir orang, bisakah industri ini bertahan?
Atau ini cuma gelembung yang suatu saat pecah?
Yang Padel Tawarkan: Kelas Sosial dalam Olahraga
Ini inti dari artikel ini: padel menciptakan kelas sosial baru dalam olahraga.
Selama ini, olahraga di Indonesia relatif “egaliter”. Badminton, sepak bola, futsal—semua orang bisa main, lintas kelas. Lapangan sama, perlengkapan sama, aturan main sama.
Tapi padel ngasih opsi berbeda: olahraga eksklusif buat yang mampu bayar lebih.
Bukan berarti padel buruk. Tapi ini realita.
Bayangin: lo bisa milih main badminton di GOR dengan harga 100 ribu, atau main padel di club dengan harga 400 ribu plus kopi 50 ribu. Dua-duanya olahraga. Tapi pengalamannya beda. Orang yang lo temui beda. Peluang yang muncul beda.
Dan di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bali, pilihan kedua itu makin diminati.
Tips: Pilih Badminton atau Padel?
Buat yang masih bingung, ini panduan sederhana:
Pilih Badminton Kalau:
- Budget terbatas tapi mau olahraga rutin
- Punya komunitas tetap dan pengen jaga konsistensi
- Nggak terlalu peduli sama “vibes” tempat
- Mau beneran ngeluarin keringat dan skill
Pilih Padel Kalau:
- Ada budget lebih (siap bayar 300-500 ribu per sesi)
- Mau olahraga sambil networking
- Menghargai estetika tempat dan pengalaman
- Bawa klien atau relasi bisnis
- Pemula yang pengen cepat bisa reli
Bisa juga dua-duanya. Tergantung konteks dan tujuan.
Common Mistakes: Jangan Salah Strategi
Dari pengamatan, ini beberapa kesalahan umum:
1. Nganggap padel sama dengan badminton.
Nggak. Pendekatannya beda. Strategi branding dan pemasarannya juga beda .
2. Ngeyel main tanpa teknik dasar.
Meskipun padel lebih mudah, tetap ada teknik dasar yang perlu dikuasai. Apalagi kalau mau main di turnamen. Ikut kelas pemula dulu.
3. Lupa aspek sosial.
Padel itu social sport. Kalau lo datang, main, langsung pulang—lo kehilangan setengah experience-nya. Sisihin waktu buat ngobrol, ngopi, networking.
4. Pilih lapangan asal murah.
Di padel, kualitas lapangan ngaruh banget ke pengalaman. Dinding yang nggak standar, lantai licin, pencahayaan kurang—bisa bikin frustrasi. Pilih yang udah certified.
5. Overestimate kemampuan.
Sama kayak olahraga lain, jangan langsung gaspol. Padel tetep bisa bikin cedera kalau salah gerak. Apalagi kalau udah seru ngejar bola.
Masa Depan: Hidup Berdampingan
Pada akhirnya, ini bukan soal “padel vs badminton”. Bukan pertarungan yang harus ada pemenang.
Badminton akan tetap jadi olahraga rakyat. Basisnya terlalu kuat, akarnya terlalu dalam. Dari anak SD sampai kakek-nenek, semua bisa main. Dari desa sampai kota, lapangan ada di mana-mana.
Padel akan terus tumbuh di segmennya. Kelas menengah atas urban yang mencari pengalaman berbeda. Yang mau olahraga tapi juga mau gaya hidup. Yang rela bayar lebih untuk kenyamanan dan eksklusivitas.
Keduanya bisa hidup berdampingan. Sama kayak kopi tubruk dan kopi kekinian. Sama-sama kopi. Tapi pasar dan pengalaman yang berbeda.
Yang menarik buat diamati: apakah padel akan tetap eksklusif, atau suatu saat jadi lebih terjangkau?
Kalau lapangan makin banyak, kompetisi makin ketat, harga sewa bisa turun. Tapi kalau itu terjadi, eksklusivitasnya hilang. Dan mungkin itu yang justru dicari pemainnya.
Paradoks.
Kesimpulan: Cermin Stratifikasi Sosial
Di 2026, padel bukan sekadar olahraga. Dia adalah penanda.
Penanda bahwa lo punya akses ke lingkaran tertentu. Penanda bahwa lo bisa membayar lebih untuk pengalaman. Penanda bahwa lo “naik kelas”—setidaknya di mata sosial.
Dan mungkin, yang lebih penting: padel ngingetin kita bahwa olahraga, seperti banyak hal lain di hidup ini, nggak pernah benar-benar netral secara kelas. Selalu ada yang lebih eksklusif, selalu ada yang lebih rakyat.
Badminton tetaplah badminton. Olahraga yang menyatukan kita dari berbagai latar belakang. Tanpa pretensi. Tanpa embel-embel.
Tapi kalau suatu saat lo main padel, lo tahu: lo bukan cuma bayar untuk olahraga. Lo bayar untuk masuk ke ruang sosial tertentu. Dan di ruang itu, bola yang memantul di dinding kaca mungkin jadi alasan paling sederhana buat ngobrol, kenalan, dan—siapa tahu—dapet deal besar.
Gue sendiri? Masih main badminton tiap minggu. Tapi nggak menutup kemungkinan suatu saat nyoba padel. Bukan karena lebih enak. Tapi karena penasaran: gimana rasanya jadi bagian dari “kelas sosial baru” itu.
Tapi untuk sekarang, kayaknya gue akan stay di GOR dulu. Dengan kaos oblong dan air minum botol bekas.
Karena di sana, gue ngerasa jadi diri sendiri.

